2ndrobby

Just another WordPress.com site

>" Krisis Gaza “Test Case” Pertama Obama "

>
Salah satu isu internasional besar yang segera harus diselesaikan oleh Obama adalah perang di Gaza. Obama memang tidak mengomentari perang Gaza dengan alasan bahwa ia belum resmi menjadi presiden AS. Setelah menjadi presiden, tidak ada alasan bagi Obama untuk tidak memperhatikan masalah ini.

DARI: KORAN-JAKARTA.COM

Barack Obama dilantik sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat (AS) hari ini dengan setumpuk harapan dari rakyat AS bahwa ia akan melakukan perubahan besar terhadap AS sesuai dengan janji-janji yang disampaikannya dalam kampanye. Perubahan itu bukan hanya menyangkut citra AS di luar negeri, tetapi juga ekonomi AS yang dalam beberapa bulan terakhir ini mengalami depresi.
Begitu Obama masuk Gedung Putih, ia akan menyaksikan sebuah “gerobak” yang penuh harapan, keinginan, dan permintaan dari mereka yang melihat Obama sebagai agen perubahan. Di dalam negeri, antara lain ia dituntut untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi AS dengan kebijakan-kebijakan baru di bidang perbankan. Di bidang hubungan luar negeri, Obama menggarisbawahi pentingnya hubungan dengan aliansinya dan kemitraan strategis dengan negara lainnya.
Bagi masyarakat internasional, AS di bawah Obama dilihat sebagai negara yang akan menerapkan pendekatan baru dan lebih segar dalam hubungan internasional. Tetapi Obama sadar bahwa reputasi AS di mata masyarakat internasional buruk akibat kebijakan Bush yang melihat dunia semata-mata dari perspektif AS. Sebagian masyarakat internasional, kalau tidak seluruhnya, mengecam AS karena caranya menangani masalah internasional.
Salah satu isu internasional besar yang segera harus diselesaikan oleh Obama adalah perang di Gaza. Obama memang tidak mengomentari perang Gaza dengan alasan bahwa ia belum resmi menjadi presiden AS. Setelah menjadi presiden, tidak ada alasan bagi Obama untuk tidak memperhatikan masalah ini.
Perang itu sendiri telah merengggut sekitar seribu nyawa orang Palestina. Sementara Israel terus menggempur basis-basis pertahanan Hamas. Upaya Dewan Keamanan PBB untuk menyelesaikan masalah itu gagal karena veto AS. DK PBB akhirnya mengeluarkan resolusi 1860 yang mendesak gencatan senjata antara Israel dan Hamas. AS abstain dalam pemungutan suara itu mungkin karena resolusi itu dianggap tidak terlalu merongrong kepentingan AS saat itu. AS kemudian juga menyetujui inisiatif perdamaian yang diusulkan oleh Mesir dan Prancis, yaitu gencatan senjata.
Langkah pertama Obama sebagai presiden AS adalah menegaskan kepada Israel bahwa masa-masa ia menikmati impunitas telah berakhir. Keberanian Obama mengatakan demikian kepada Israel akan menjadi sebuah pertanda bahwa AS di bawah Obama akan lebih keras lagi terhadap Israel.
Apakah hubungan AS-Israel bersifat khusus atau tidak, Presiden Obama tetap harus mengatakan kepada Israel bahwa ia bertanggung jawab terhadap tindakannya di Gaza dan bahwa ada batasan terhadap dukungan AS.
Obama juga dapat menggunakan momen pelantikannya untuk mengirim pesan bahwa AS mengakui hak Palestina untuk hidup. Meskipun ini kedengarannya sangat bersifat mendasar, tiadanya pesan demikian, khususnya sejak delapan tahun terakhir, membuat Arab semakin memahami bahwa hubungan khusus AS dengan Israel telah merongrong klaim AS bahwa ia adalah perantara yang jujur.
Dalam perundingan yang gagal selama 60 tahun, pendekatan satu pihak tidak akan pernah efektif. Tahun 2000, pemerintahan Clinton merongrong perundingan Camp David dengan berkali-kali mengedapankan kepentingan Israel dan mengabaikan argumen-argumen Palestina. Dalam satu tahun terakhir ini, ketika Bush membantu Israel merayakan ulang tahunnya yang ke-60, ia mempertegas posisinya untuk tidak menghadiri peringatan Nakba atau Catastrophe, yaitu ketika sekitar 75.000 Arab Palestina melakukan eksodus ke luar wilayah Palestina.
Jika saja pemerintahan Obama mengakui nilai aspirasi Palestina, hal itu bukan hanya akan memunculkan etika baru, tetapi juga pragmatisme baru. Agar perundingan mengenai Israel–Palestina berhasil, AS harus mengatakan apa yang ia anggap benar dalam isu ini dan membuang jauh-jauh pengalaman buruk di masa lalu.
Tim yang akan dibentuk Obama untuk mengatasi krisis Gaza ini perlu mendengar advis mantan menteri luar negeri Colin Powell bahwa Hamas harus dilibatkan dalam setiap pembicaraan perdamaian. Setiap persetujuan yang dicapai hanya oleh Mahmoud Abbas, pemimpin moderat Palestina yang menguasai Tepi Barat tidak akan efektif karena hanya akan didukung oleh sebagian kecil fraksinya.
Apakah akan gagal atau berhasil, harapan besar sepertinya dialamatkan kepada Pesiden Obama untuk segera mengakhiri krisis Gaza yang telah memasuki minggu ketiga. Banyak yang mengandaikan bahwa sekalipun luka-luka mewarnai upaya perdamaian Bush selama delapan tahun terakhir, sikapnya yang sangat pro-Israel dan yang dianggap militan dalam masalah Timur Tengah, penggantinya, Presiden Obama, diharapkan akan mengambil kebijakan yang memberi efek signifikan terhadap proses perundingan.
Tetapi banyak pula yang pesimistis terhadap rencana Obama menangani krisis Gaza. Dilihat dari daftar anggota kabinet Obama, ada alasan bagi yang pesimistis untuk ragu bahwa Obama memiliki keberanian untuk mengabaikan pengaruh kelompok lobi-lobi ultrazionis di AS.
Pertanyaannya, apa yang dapat dilakukan Pesiden Obama? Secara paradoks, situasinya akan berubah jika ia mengambil sikap pro maupun kurang pro terhadap Israel. Langkah yang setengah-setengah yang pernah diambil pendahulu Bush (Bill Clinton) sebenarnya gagal untuk memperjuangkan hak Palestina dan penerimaan Israel di kawasan. Apa yang terjadi di Gaza akhir-akhir membuktikan pendekatan AS yang sifatnya “menghasut” perang justru menutup ruang untuk berunding.
Presiden Obama dapat saja membuat kejutan melalui cara yang lebih produktif, misalnya menjelaskan kepada Israel bahwa karena mereka tidak akan pernah bisa membangun emporium dengan dukungan dari AS yang sebenarnya hanya berupa khayalan, upaya Israel mempertahankan hubungan dengan tetangga Arabnya dengan cara-cara perang tidak akan efektif dan Washington tidak akan membayar kepada Israel untuk hal-hal semacam itu.
Secara simultan, Obama dapat meningkatkan komitmennya pada integritas teritorial dan keamanan Israel, termasuk perjanjian pertahanan timbal balik, dengan imbalan kesediaan di pihak Israel untuk menandatangani dan patuh pada perjanjian yang dibuat berdasarkan Arab Peace Initiative tahun 2002.
Jika kedua langkah itu akan diambil Obama, ia bukan hanya perlu membuang jauh-jauh kebijakan Bush, tetapi juga menentang conventional wisdom Bush yang telah berlangsung selama berabad-abad.
AS di bawah Obama tidak perlu membuang waktu. Ia harus bergerak cepat dan memaksakan sebuah perdamaian yang bukan hanya sesuai dengan kepentingannya, tetapi juga sesuai kepentingan semua pihak di kawasan.
Kegagalan dalam melakukan tindakan ini hanya akan memunculkan bencana lebih besar di kawasan ini dan pada gilirannya akan membuat proses damai terganggu jika tidak berhenti sama sekali. Krisis Gaza menjadi test case pertama bagi pemerintahan Obama.
Obama mengakui menyusul krisis Gaza, ia akan memiliki kesempatan untuk membuat perubahan yang visioner demi kepentingan jangka panjang semua pihak. Obama tahu bahwa alternatif-alternatif yang suram, misalnya intifada Palestina yang baru, ketegangan diplomatik di antara negara-negara Arab, dan perang tanpa akhir, hanya akan merongrong upaya-upaya yang dibutuhkannya untuk mengubah citra AS di mata dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: